My DevOps Prediction in 2021

This article is written in Bahasa Indonesia.

Seiring memasuki tahun 2021, implementasi Modern IT approach seperti DevOps telah marak dilakukan oleh Enterprise di Indonesia. Bagaimanakah arah perkembangan di tahun 2021?

Berikut adalah beberapa prediksi saya untuk DevOps di Tahun 2021:


1. CI/CD akan menjadi standar dalam proses delivery IT

Praktik Continuous Integration (CI) dan Continuous Delivery (CD) akan menjadi standar dalam proses delivery dan masuk dalam proses change control (atau sebelumnya dikenal dengan isitilah change management) untuk setiap perubahan layanan TI. Hal ini disebabkan karena tuntutan bisnis yang semakin tinggi – Anda harus cepat dan berkualitas secara bersamaan, dan hal ini bukan pilihan lagi.

Skema implementasi CI/CD yang erat dikaitkan dengan DevOps, yang juga dikombinasikan dengan praktik lain seperti Proactive Monitoring kedalam area bisnis dan domain lain, akan menghasilkan terminologi turunan seperti DataOps, AIOps, MLOps dan lain sebagainya.

Proses dan pendekatan implementasi CI/CD hingga DevOps di setiap organisasi akan berbeda sesuai adaptasi ke dalam proses dan culture organisasi. Organisasi akan memiliki skema beragam berdasarkan model bisnis hingga compliance dan regulasi yang menaungi, mulai dari skema end-to-end DevOps team seperti Amazon, SRE Google, Platform Team, hingga gabungan dari beberapa skema topologi implementasi yang ada.


2. There will be no separation between Agile and DevOps anymore

Kapabilitas, praktik hingga Mindset Agile dan DevOps adalah mutlak untuk dimiliki Enterprise IT dengan tuntutan bisnis yang saat ini sangat erat dengan teknologi. Tidak akan ada pemisahan antara Agile dan DevOps lagi di masa datang, karena tanpa salah satunya, implementasi Anda tidak akan berjalan dengan impact yang Anda inginkan – “It takes two to Tango”.

Doing Agile without DevOps, it’s same like treating DevOps only as your sysadmin, you will end up with nothing at the end.

Pastikan Anda selalu melibatkan bisnis dalam inisiatif ini. Lakukan pengukuran dari internal flow value stream IT hingga value dan impact kepada business dan customer, sehingga obyektif organisasi dapat tercapai. At the end, it’s always about delivering business value, bukan hanya menciptakan terminologi dan arena bermain baru di area IT.


3. DevSecOps akan menjadi standar terminology untuk DevOps di Enterprise

“There should be no such thing as DevSecOps”, quote ini pernah dilontarkan oleh penggagas awal DevOps, karena implementasi DevOps yang benar, seharusnya sudah memasukkan ujicoba dan asesmen kualitas dan keamanan dalam setiap prosesnya.

Akan tetapi penggunaan terminologi DevSecOps akan lebih umum digunakan di Enterprise untuk menekankan dengan lebih tegas bahwa keamanan dan kualitas adalah tanggung jawab semua orang; di sisi lain, tentunya lebih mudah untuk menjual terminologi baru yang lebih sophisticated kepada internal organisasi. Dari sisi penyedia layanan tools, tentunya DevSecOps akan terdengar lebih seksi dan “mahal” untuk ditawarkan.

Peningkatan pada area App Security di domain DevOps akan banyak dilakukan, mulai dari implementasi secret management, security as code, security monitoring hingga security awareness dan knowledge untuk semua pihak yang terlibat dalam proses delivery dan operation layanan.


4. Adopsi IT Service Management akan mengarah menjadi lebih praktikal, value oriented bukan process oriented

Praktik IT Service Management dengan best practice seperti ITIL yang diadopsi oleh Enterprise akan menjadi lebih praktikal, dengan kombinasi pendekatan modern lain seperti SRE, DevOps, Agile dan Lean.

Fokus praktik ITSM adalah pada value co-creation sehingga penerapan praktik ITSM akan beradaptasi berdasarkan pada value oriented, bukan process oriented seperti yang masih sering kita temukan di tipikal Enterprise.

Salah satu yang menarik adalah terjadinya fenomena bahwa di satu sisi Enterprise melakukan perampingan proses IT, dan di sisi lain start-up mulai mengadopsi praktik-praktik IT Service Management seperti Enterprise agar dapat mengelola secara efektif proses IT yang semakin kompleks karena pesatnya perkembangan organisasi.

Titik tengah akan terbentuk dan menjadi acuan baru bagi Lean Enterprise dan Growing Start-up. Pendekatan seperti swarming bagi incident management, provisioning dan configuration management system secara otomasi dan pemetaan antar Configuration Item (CI) secara otomasi akan menjadi new norm, dengan diikuti praktik lainnya.


5. Peran IT Operation and Infrastructure akan menjadi lebih tinggi, menjadi value enabler bagi organisasi

Bayangkan apabila organisasi Anda memiliki provider internal seperti AWS, Google hingga Azure, semua layanan yang dibutuhkan dapat di-inisiasi melalui self-service portal secara cepat dan layanan tersedia secara cepat dan berkualitas. Hal ini telah mulai dijalankan Enterprise di tahun 2020 dan akan berkembang lebih pesat di tahun 2021.

Adopsi Platform Team dengan pendekatan everything as code / software defined everything, automate everything, hybrid cloud dan agile way of working di domain IT Operation dan Infrastructure akan meningkat dan mulai menjadi “new normal”. Developer experience akan menjadi salah satu kunci dari kesuksesan dari produk yang dihasilkan.

Peran IT Ops dan Infra akan secara signifikan menjadi lebih besar, dari yang sebelumnya dilihat lebih sebagai supporting menjadi enabler, menjadi Internal IT Provider yang memungkinkan tim lain untuk menghasilkan layanan lebih berkualitas dengan flow delivery yang lebih cepat.


6. Chaos Engineering mulai untuk dijalankan untuk meningkatkan resiliency / ketahanan sistem

Praktik chaos engineering yang sudah lama dijalankan dan dipelopori oleh Netflix, dengan Chaos Monkey (atau group of Simian Army-nya) akan mulai dijalankan secara eksperimental dengan target layanan yang kritikal untuk meningkatkan ketahanan. Praktik ini akan digunakan untuk menjamin bahwa layanan dan semua komponen TI yang kritikal, memiliki ketahanan yang mumpuni dari failure.


7. Kapabilitas Self-Healing akan menjadi salah satu fokus utama 

Seiring dengan kapabilitas CI/CD, automated testing, loosely coupled architecture hingga monitoring yang telah dibangun, maka Enterprise akan mulai berfokus pada peningkatan kapabilitas yang lebih tinggi di area monitoring, yaitu proactive monitoring hingga pada self healing / auto remediation.

Kapabilitas auto remediation akan memungkinkan Enterprise untuk mencapai Time To Recover kurang dari 2 menit, sehingga dampak dari gangguan layanan TI yang muncul dapat diminimalisir sekecil mungkin.


Summary

Praktik dan pendekatan teknologi tentunya akan berkembang mengikuti tuntutan bisnis, akan muncul beberapa jargon dan branding lainnya berdasarkan praktik yang sudah ada yang dilengkapi agar menjadi lebih comprehensive, atapun sekedar agar lebih “sexy” untuk dijual kepada business user, consumer ataupun internal organisasi TI.

Agar dapat diwujudkan dengan efektif, penerapan semua praktik Modern IT seperti DevOps membutuhkan pendekatan yang tepat, baik dari aspek technical maupun leadership, dan mulailah selalu dari perubahan system of work Anda.

“If you want to change the thinking, empower the people, and create system of work which will lead them to new ways of thinking.”

Keep learning and stay foolish, adopsi dan adaptasikan best practices yang ada, kombinasikan framework yang kita butuhkan untuk mendapatkan solusi yang terbaik bagi Enterprise dan organisasi kita.

Welcome to DevOps in 2021!